|
Karena lahar mengandung endapan material begitu kaya, di sinilah muncul situs penambangan pasir tradisional yang tergolong luas dan menggiurkan, sekaligus paling parah kerusakan ekologisnya, tapi juga menjadi sumber ekonomi warga sekitar. Uang ratusan ribu pun mengalir bak desis asap pucuk Merapi: bergegas sekaligus sabar. Ngatinem, misalnya, mulai bersiap ke lokasi penambangan selepas subuh. Warga dusun Srunen ini datang bersama suaminya, Suranto. Ia ditemani adik iparnya, Warjini, dan tetangganya Suprihatin.
Usia mereka 40 hingga 50-an tahun. Jarak tempuh sekitar satu kilometer dari rumahnya, berjalan kaki, dengan perut kosong tapi membawa bekal untuk makanselepas bekerja. Kelompok bersaudara ini mulai bekerja sekira jam lima pagi. Dengan peralatan sekop dan palu serta karung goni, mereka segera menghimpun pasir selangkah demi selangkah, dan membuang batu-batu kerikil ke undakan tanah yang lebih tinggi. Pelan tapi pasti, timbunan pasir milik mereka makin tinggi dan, seiring pagi, truk-truk mulai bermunculan, hilir-mudik menuju lubang-lubang penggalian.
Sebelum jam delapan, kelompok Suranto sudah bisa menjual pasirnya. Butuh sekira satu jam mereka berempat mengangkuti pasir ke dalam bak truk hingga penuh. Pagi Minggu awal Mei itu mereka menerima Rp 80ribu. Masing-masing dapat Rp 20ribu. Mereka pun lantas melepas lelah dan membuka bekal. Mereka akan pulang jam 11-an. “Langsung ngarit, golek rumput (langsung ke ladang mencari rumput untuk pakan ternak, red),” kata ketiga ibu itu.
“Semua gitu, Mas,” imbuh Warjini. Tumpukan rumput dilesakkan ke dalam karung goni, tempat yang sama untuk mengangkut bebatuan di lokasi penambangan. Sekarung rumput itu dipikul di atas punggung, menuju kandang ternak di samping rumah. Dan mereka bisa istrirahat dengan tenang, setelahnya.
|
|