Perspektif Utama

Edisi No.04 Tahun III, 2008


Land Reform Setengah Hati

Ketidakadilan struktur dan penguasaan tanah selama puluhan tahun menjadi sebab terjadinya kemiskinan struktural. Meskipun sempat dicurigai berbau “kiri”, program Reforma Agraria akan jadi terobosan jitu memutus lingkaran setan kemiskinan. Banyak yang meragukan efektivitasnya.

Ini memang negeri penuh ironi. Orang bilang Indonesia negara agraris. Luas wilayah daratannya mencapai 1,86 juta kilometer persegi. Luas lahan pertaniannya sekitar 21 juta haktare. Tapi lihatlah para petaninya. Sedikitnya 80 persen keluarga petani tak punya lahan.

Mereka adalah petani gurem. Betapa ironisnya fakta ini: di negeri agraris yang wilayahnya begitu luas, masyarakatnya justru hanya jadi petani gurem! Dan yang mereka wariskan kepada anak cucu tiada lain kecuali kemiskinan.“Struktur penguasaan dan penggunaan lahan yang tidak adil, yang timpang, itulah yang jadi sumber penyebab terjadinya kemiskinan struktural ini,” kata Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto.

Karena itulah, kata Joyo, perlu dilakukan restrukturisasi atau penataan ulang secara mendasar berkaitan dengan distribusi, penguasaan,
dan pemanfaatan atau penggunaan
tanah. Untuk itu pemerintah telah mencanangkan program Reforma Agraria. “Reforma Agraria bukan cuma soal distribusi tanah, tapi penataan ulang secara menyeluruh. Mulai dari struktur kepemilikan atau penguasaan
hingga peruntukannya,” katanya. Rumus sederhana yang diusung Joyo adalah RA=LR+AR. Artinya, Reforma l muklisin