Oase

Edisi No.04 Tahun III, 2008

Berhitung Cepat dengan Jari

Septi P Wulandani menemukan metode jitu. Hanya dengan sepuluh jari, kita bisa berhitung cepat mencapai angka ribuan. Jaritmatika namanya.

Dari sepuluh jari tangannya, Septi P Wulandani, ibu rumah tangga asal Salatiga, Jawa Tengah, membuat berhitung menjadi pelajaran yang menarik. Matematika yang identik dengan hitung-hitungan rumit yang sebelumnya cukup
membosankan, kini menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Septi mampu mengembangkan metode berhitung cepat dengan jari, yang dinamakan jaritmatika (jari dan matematika).

Penemuan itu berawal dari rasa terkejut Septi ketika melihat perkembangan anak sulungnya di usia 2,5 tahun sudah bisa membaca. Dalam hatinya Septi bertanya, siapa yang mengajarkan dia membaca. Dari situ Septi mulai mengamati pola dan cara bermain anaknya. Ternyata, anak dalam bermain memiliki pola belajar sendiri. Akhirnya dia menjadi mitra setiap anak dalam bermain dan belajar. Setelah anaknya lancar benar membaca, Septi mulai mengarahkan ke berhitung. Maka dimasukanlah ke kursus kumon. Setelah dijalani beberapa waktu, metode itu kurang tepat. Model latihan perhitungannya membuat anak cepat jenuh. Lalu dicobalah Sempoa, metode berhitung menggunakan alat tradisional Tionghoa, namun itu membuat anak sangat tergantung pada alat. Ketika Sempoanya rusak, Septi mulai berpikir ulang karena anaknya tidak bisa belajar. Dari situ muncul ide mengalihkan cara berhitung Sempoa ke jari tangan.

”Akhirnya kita kembali ke konvensional dengan memakai jari tangan,” tambah Septi. Memang terlihat mudah, hanya buka dan tutup jari tangan, anak bisa berhitung dari angka puluhan hingga ribuan. Seperti dijelaskan Septi, anak harus diajari terlebih dulu konsep dan metode yang mendasari berhitung cepat dengan jari tangannya. Metode ini menetapkan standar jari tangan kanan untuk satuan dan kiri untuk puluhan. ”Konsep itu distandarkan seperti buka jari untuk tambah, tutup jari untuk kurang, serta konsep teman besar dan teman kecil dalam bilangan,” jelasnya. Alumnus Universitas Diponegoro ini menambahkan, semua konsep dalam hitungan jaritmatika ada standar yang harus diterapkan. Metode pengajarannya pun mengarah ke permainan anak. AnaAk IlhaAmiI JaAriItmaAtiIkaA Ibu dari tiga anak ini mengakui, bila dirunut ke belakang pengembangan metode berhitung jaritmatika diilhami proses belajar-mengajar dengan anaknya.

Septi hanya menuliskan proses apa yang diperoleh dari cara belajar anaknya. Ketika masuk perhitungan mencoba berbagai metode yang ditawarkan seperti Kumon dan Sempoa namun tidak cocok. ”Mulailah otak-atik jari tangan, lalu menemukan proses berhitung dengan jari tangan,” jelasnya. Berbekal pengetahuan dari kursus itu, Septi berupaya menciptakan metode yang disukai anaknya. Ia melihat anaknya yang suka memainkan jemari. Dia lalu berpikir mengapa tidak jari-jari tangan diaktifkan kembali dan dimaksimalkan untuk menguasai pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Dengan imajinasinya, Septi memindahkan bidak Empoa ke jari-jari tangan.Upaya Septi mengoptimalkan apa yang femiliar dengan anak melalui jarinya. Kedua alat bantu ini tidak pernah tertinggal ke mana pun anak pergi dan tidak membebani memori anak. Cara berhitung dengan jari ini cukup menyenangkan. ”Cara belajar berhitung dengan jari untuk anak dilakukan dengan bermain dan bernyanyi,” tegasnya ibu yang anaknya tidak perlu lagi kursus itu. Seperti diperagakan Septi, bilangan jaritmatik lima lambangnya
jempol. Itu semua disampaikan dengan yel-yel diserta bernyanyi.

Seperti untuk menyebut angka satu lambang telunjuk disebut ”itu”, dua gunting (telunjuk dua), tiga garpu (telunjuk tiga menyerupai garpu), empat ekor ikan, lima jempol (jos), enam pistol, tujuh senapan, delapan makan, dan sembilan tos antarteman. Begitu sebaliknya untuk jari tangan kiri. Cara mengajar dengan bernyanyi dan yel-yel menjadikan anak senang gembira. Mempelajari Jarimatik bagi seorang ibu ada banyak manfaat. Menurut Septi, teknik berhitung jari diakui semakin mempererat hubungan anak dan ibu, selain bermain juga belajar berhitung dengan jari tangan. Sebelumnya memang banyak ibu rumah tangga yang menyerah sebelum berjuang mendidik anaknya di rumah, karena tidak tahu caranya. Setelah mengenal Jaritmatika
ada pencerahan di kalangan Ibu-ibu, untuk semakin dekat dengan anak karena ada mainan berhitung dengan jari tangan. Sambil bermain, sang ibu bisa mengajari anak berhitung.

”Ini sederhana, bisa dilakukan sambil main,” ungkapnya. Temuan Septi ini kemudian dipatenkan, dan ditularkan pengajarannya melalui Yayasan Jaritmatika Indonesia (YJI). Hingga saat ini YJI sudah memiliki 84 cabang yang tersebar di Indonesia, dengan 15 tutor. Berbagai seminar untuk memperkenalkan Jaritmatika sering digelar. Tiap seminar dihadiri antara 500 sampai 1500 peserta ibu dan anak. Bahkan, seminar Jaritmatika pernah masuk MURI mampu mendatangkan 5028 peserta seminar aktif. Septi mengakui saat ini banyak berkembang teknik perhitungan yang menyerupai Jaritmatika, seperti smart hand. Metode berhitung Jaritmatik juga mulai diminati masyarakat negara lain. Septi, misalnya, pernah diminta presentasi di Kedutaan Swedia. Menurut rencana program itu diwajibkan untuk pendidikan di sana. Di Beijing program itu dalam proses penerjemahan buku ke bahasa mandarin. Sedangkan di Singapura dan Malaysia (Penang) Jaritmatika sudah buka cabang. Lalu di perbatasan Papua Nugini Jaritmatika sudah masuk yang disebarkan pasukan Indonesia di perbatasan untuk meningkatkan
pendidikan anak masyarakat perbatasan. l harry suharto