|
Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (HaDe) dalam Pemilihan Gubernur- Wakil Gubernur Jawa Barat, April 2008, tergolong mengejutkan dan fenomenal. Mengejutkan, karena pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mampu mengalahkan calon incumbent yang Danny Setiawan dan Jenderal Purnawirawan Agum Gumelar. Danny dicalonkan Partai Golkar. Sedangkan, Agum diusung PDI Perjuangan. Kemenangan HaDe mengejutkan karena, selain mengalahkan Danny yang incumbent, selama ini Jawa Barat dikenal sebagai basisnya Partai Golkar.
Sementara HaDe hanya diusung oleh PKS.Banyak pakar menilai kemenangan mereka juga tergolong fenomenal. Fenomenal karena sejumlah pakar menyebut hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Barat tersebut akan menjadi trendsetter penyelenggaran pesta demokrasi di berbagai daerah lain. Ada dua hal yang disebut-sebut akan jadi tren baru dalam pilkada. Pertama, ke depan akan jadi eranya kaum muda. Kaum muda lebih berpeluang memenangi pilkada lantaran para pemilih menginginkan perubahan. Kedua, kemenangan Dede Yusuf ditengarai bisa mendorong kian banyaknya kalangan artis, selebritas, atau figur publik terjun ke panggung politik, berebut takhta lewat pilkada.
Tren itu memang sudah mulai terlihat.
Sebelum Dede, misalnya, sudah ada Marissa Haque yang ikut Pilkada Provinsi Banten —tapi kalah oleh calon incumbent, Ratu Atut. Rano Karno kini sudah menduduki jabatan Wakil Bupati Tangerang. Beberapa saat setelah Dede Yusuf meraih kemenangan, pedangdut yang mantan suami Dewi Persik, Syaeful Djamil, mengumumkan pencalonannya sebagai calon Wakil Wali Kota Tangerang dengan dukungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).Belakangan, raja kuis Helmy Yahya dicalonkan jadi Wakil Gubernur Sumatera Selatan oleh PDI Perjuangan. Sempat juga beredar kabar, Rieke Dyah Pitaloka bakal ikut Pilkada Kabupaten
Bandung. Namun rencana itu ia urungkan. Hal yang sama juga terjadi pada Adjie Massaid. Bintang film yang kini jadi anggora DPR RI ini semula mengincar kursi Wakil Gubernur Jawa Timur. Namun, karena partai tempatnya bernaung, Partai Demokrat, memilih calon lain, mantan suami penyanyi Reza ini juga membatalkan niatnya.
“Saya patuh pada keputusan partai,” katanya.Panggung TerbukaBagi kalangan artis, fenomena ini merupakan kemajuan. Rieke yang popularitasnya melambung karena sukses memerankan tokoh Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri, misalnya, menilai, para artis juga memiliki hak-hak politik yang sama dengan warga negara lainnya. Ibaratnya, dunia politik tak ubahnya seperti panggung terbuka, siapa pun boleh unjuk diri untuk memainkan peran yang diinginkan. “Jangan dilihat dari sisi artisnya. Ini proses pembelajaran politik. Lihatlah kompetensi dan profesionalitas mereka. Toh, pejabat yang bukan dari kalangan artis pun keadaannya juga tidak begitu baik,” papar Rieke yang belum lama berpindah partai dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke PDI Perjuangan. Di era reformasi ini, menurut Rieke, tak bisa lagi politik hanya dimonopoli kelompok atau golongan tertentu. Panggung politik bisa untuk siapa saja, tak peduli latar belakang profesinya.
 ”Memang seharusnya seluruh warga negara peduli terhadap politik. Ini merupakan langkah maju. Tinggal bagaimana si artis membekali diri,” Rieke menambahkan. Rieke sendiri ingin masuk Senayan 2009 nanti.Pandangan senada dilontarkan Adjie Massaid. Indonesia yang sedang masa transisi ini, menurutnya, memang sangat memungkinkan siapa saja terlibat dalam politik praktis. ”Siapa saja bisa mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau wakil rakyat, termasuk para artis,” katanya. Menjual PopPularitTasKalangan pakar mencermati fenomena ini dari sudut pandang berbeda. Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta Hamdi, misalnya, menilai faktor popularitas memiliki kontribusi paling signifikan dalam kemenangan Rano Karno maupun Dede Yusuf hingga mengantarkan keduanya menjadi wakil kepala daerah. Ini, kata Hamdi, terjadi karena perpolitikan di Indonesia memang masih mengedepankan popularitas ketimbang kualitas.”Karena rakyat miskin informasi, maka yang mereka pilih hanyalah mereka yang dikenal atau popular,” kata Hamdi. Hal ini, menurutnya, disebabkan
Indonesia belum memiliki tradisi politik yang kuat. Sejak awal kemerdekaan,
Indonesia belum pernah mempraktekkan kemerdekaan berpolitik yang sebenarnya. Ia memberi contoh, di zaman Orde Lama Bung Karno memberlakukan
Demokrasi Terpimpin. Partai-partai politik juga dihabisi. Di masa Orde Baru idem ditto, partai politik
dibonsai. ”Begitu kran demokrasi dibuka, infrastrukturnya belum siap. Partai, pemerintah, dan masyarakatnya juga belum siap. Contohnya, kalau ada empat calon kepala daerah, misalnya, pasti masyarakat akan memilih yang paling popular,” paparnya.
Menurut Hamdi, ini merupakan prinsip psikologi yang paling sederhana.
Orang yang paling dikenal masyarakat yang akan jadi pilihan pertama. Kondisi inilah, menurutnya, dimanfaatkan partai politik. Untuk mendulang dukungan massa, kata Hamdi, partai politik yang tak memiliki kader berkualitas dan merakyat akan menggaet artis atau selebritas. ”Karena keteranan merupakan salah satu penentu suara,” tandasnya.Bahwa popularitas kalangan selebritas
penting untuk mendulang suara, Hermawan Sulistiyo tak menampik.
Namun, peneliti politik pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan agar orang tak salah menafsir atas kemenangan Dede Yusuf dan Rano Karno. Menurut analisisnya, yang membuat mereka menang sebenarnya bukan faktor popularitas. ”Tidak begitu sebetulnya,” katanya.Ada faktor lain yang menurut Hermawan lebih substansial, yaitu kejenuhan masyarakat pemilih terhadap wajah-wajah lama.
Hermawan mengistilahkannya dengan guyonan ”4 L”: lu lagi lu lagi. Menurutnya, faktor kejenuhan politik dan keinginan kuat dari masyarakat akan adanya perubahan itulah yang menentukan kemenangan Dede dan Rano. Sebab, katanya, kalau soal popularitas, baik Danny Setiawan maupun Agum Gumelar tak kalah kondang. Danny calon incumbent,yang tentu sudah dikenal baik seluruh masyarakat Jawa Barat. Adapun Agum adalah tokoh militer dan Ketua Umum KONI, sekaligus mertua pebulu tangkis Taufik Hidayat, yang popularitasnya juga tak diragukan. ”Jadi jangan ada misleading tafsir. Dalam hal kemenangan Rano Karno, lebih disebabkan karena ia berpasagan dengan calon incumbent,” tegas Hermawan.Analisis Hermawan tersebut dikuatkan bukti lain.
Sebelumnya, demikian Hermawan memberi contoh, Marissa Haque bertarung di Provinsi Banten. Namun, bintang film yang bergabung dengan PDI Perjuangan ini nyatanya kalah oleh calon incumbent. Jika patokannya
hanyalah ketenaran dan keartisan, kata Hermawan, semestinya yang keluar sebagai pemenang adalah Marissa.
”Jadi, popularitas dan keartisan saja tidak cukup,” kata Kiki, panggilan Hermawan, menandaskan.
|
|